Kunyit Cegah Kambuhnya Serangan Jantung

Bramirus Mikail | Asep Candra | Rabu, 18 April 2012 | 06:18 WIB

KOMPAS.com - Kunyit yang selama ini dikenal sebagai rempah-rempah bumbu masakan ternyata memiliki manfaat kesehatan, khususnya bagi pasien jantung. Sebuah riset terbaru di Thailand menunjukkan, ekstrak dari bumbu kunyit, yang dikenal sebagai antioksidan dan anti-inflamasi, dapat membantu mencegah serangan jantung pada mereka yang telah menjalani operasi bypass.

Selama operasi bypass, otot jantung dapat rusak akibat kurangnya pasokan aliran darah sehingga meningkatkan risiko pasien mendapatkan serangan jantung. Namun, temuan baru yang dipublikasikan dalam American Journal of Cardiology, mengindikasikan bahwa kurkumin - pigmen kuning pada kunyit - dapat meringankan risiko tersebut ketika ditambahkan ke terapi pengobatan tradisional.

Wanwarang Wongcharoen, pemimpin studi dari Chiang Mai University, mengatakan, temuan yang dilakukannya masih dalam skala kecil dan harus dikonfirmasi dalam studi yang lebih besar.

Seperti diketahui, ekstrak kunyit telah lama digunakan dalam pengobatan China dan tradisional India. Penelitian menunjukkan peradangan memainkan peran penting dalam pengembangan berbagai penyakit, termasuk penyakit jantung.

"Dan kurkumin dapat menghambat proses peradangan tersebut," kata Bharat Aggarwal, yang mempelajari penggunaan kurkumin dalam terapi kanker di MD Anderson Cancer Center, Houston, Texas.

"Temuan ini sangat menggembirakan," tambahnya, yang tidak terlibat dalam riset tersebut.

Dalam kajiannya, peneliti mempelajari 121 pasien yang tidak dalam kondisi darurat pasca-menjalani operasi bypass di rumah sakit antara tahun 2009 dan 2011.

Setengah dari pasien diberi satu gram kapsul kurkumin sebanyak empat kali dalam sehari. Mereka mengonsumsi kapsul yang diperkaya kurkumin tiga hari sebelum operasi dan berlanjut selama lima hari sesudah operasi. Separuh lainnya mengonsumsi jumlah yang sama dalam bentuk kapsul plasebo.

Hasil penelitian menunjukkan, setelah operasi bypass, sebanyak 13 persen peserta yang tadi mengonsumsi kurkumin mengalami serangan jantung. Sementara peserta yang mengambil plasebo, 30 persen mendapatkan serangan jantung (jumlahnya jauh lebih besar).

Sebelum peserta menjalani operasi jantung, Wongcharoen dan rekan juga menemukan bahwa peserta yang mendapatkan kurkumin memiliki risiko 65 persen lebih rendah terkena serangan jantung. Wongcharoen berpendapat, antioksidan dan anti-peradangan yang terkandung di dalam kurkumin mungkin telah membantu menghambat kerusakan jantung pada pasien.

"Kurkumin sudah lama dipercaya memiliki kemampuan untuk mengurangi peradangan dan mengurangi toksisitas oksigen atau kerusakan yang disebabkan oleh radikal bebas di sejumlah penelitian," sambung Jawahar Mehta, seorang ahli jantung dari University of Arkansas for Medical Sciences di Little Rock, yang tidak terlibat pada studi ini.

"Tapi itu tidak berarti bahwa kunyit bisa menjadi pengganti pengobatan," tambahnya.

Menurut Mehta, beberapa jenis obat-obatan seperti aspirin, statin, dan beta blockers telah terbukti dapat membantu pasien jantung dan bahkan para peserta yang terlibat dalam penelitian ini juga telah menggunakannya.

"Mendapatkan kurkumin dengan jumlah yang pas seperti misalnya dalam masakan mungkin cukup berguna. Tapi saya tidak menyarankan Anda untuk pergi ke toko makanan kesehatan dan mulai mengambil empat gram kurkumin sehari, seperti yang dilakukan dalam penelitian ini," jelas Mehta.

Sumber :FOX NEWS
http://health.kompas.com/read/2012/04/18/06183759/Kunyit.Cegah.Kambuhnya.Serangan.Jantung

Bawang Putih Lebih Efektif Lawan Bakteri Dibanding Antibiotik

Rabu, 02/05/2012 09:28 WIB

Putro Agus Harnowo - detikHealth

Jakarta, Suatu senyawa dalam bawang putih ternyata ampuh memerangi bakteri penyebab keracunan makanan. Bahkan, sebuah penelitian mengklaim efeknya 100 kali lebih kuat dibandingkan 2 jenis antibiotik yang umum digunakan saat ini.

Senyawa dalam bawang putih yang disebut dialil sulfida bekerja dengan cara menargetkan enzim metabolik tertentu dan efektif menembus lapisan berlendir yang melindungi bakteri. Bakteri pemicu keracunan makanan seperti Campylobacter membuat lapisan pelindung biofilm yang membuat bakteri 1.000 kali lebih tahan terhadap antibiotik daripada bakteri tanpa lapisan pelindung.

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Antimicrobial Chemotherapy ini menemukan bahwa sulfida dialil 100 kali lebih efektif daripada antibiotik eritromisin dan ciprofloxacin untuk menghancurkan lapsian pelindung tersebut, sekaligus mampu membasmi Campylobacter lebih cepat dibanding obat.

"Penemuan ini dapat mengarah pada pengobatan masa depan yang diterapkan untuk daging mentah, daging olahan dan peralatan makan yang berisiko terkontaminasi bakteri. Ini adalah langkah pertama dalam mengembangkan strategi pengobatan baru," kata peneliti, Dr Michael Konkel dari Washington State University seperti dilansir MedicalDaily.com, Rabu (2//5/2012).

Campylobacter merupakan bakteri yang banyak menyebabkan keracunan makanan. Campylobacter juga bertanggung jawab menyebabkan hampir sepertiga kasus sindrom Guillain-Barré, gangguan kelumpuhan yang langka.

Kebanyakan infeksi Campylobacter berasal dari memakan unggas mentah atau setengah matang, bisa juga disebabkan oleh kontaminasi silang melalui permukaan peralatan dapur yang tercemar bakteri karena kurang menjaga kebersihan.

Penelitian sebelumnya yang diterbitkan pada tahun 2011 juga menunjukkan bahwa bahan yang terkandung dalam bawang putih efektif membunuh kuman penyakit dari makanan, termasuk Listeria monocytogenes dan Escherichia coli.

Sulfida dialil bisa berguna untuk mengurangi jumlah Campylobacter dan membersihkan peralatan dapur. Namun Konkel memperingatkan bahwa memakan bawang putih saja bukan berarti dapat mencegah keracunan makanan akibat Campylobacter.

"Sulfida Dialil bisa membuat banyak makanan menjadi lebih aman untuk dimakan. Bisa juga digunakan untuk membersihkan permukaan perlengkapan dan peralatan makanan, serta sebagai pengawet makanan kemasan. Tidak hanya bisa memperpanjang usia penyimpanan, tetapi juga mengurangi pertumbuhan bakteri yang berpotensi bahaya," kata rekan peneliti, Dr Barbara Rasco dari Washington State University.


(pah/ir)


Sumber : http://health.detik.com/read/2012/05/02/092849/1906734/763/bawang-putih-lebih-efektif-lawan-bakteri-dibanding-antibiotik?991104topnews

Translate