Hati-hati Mengkonsumsi Suplemen

Selasa, 03 Februari 2009 | 08:56 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Tak ada secuil kekurangan yang kentara dari fisik Bulan, 13 bulan. Namun, kecemasan sang Bunda membuat bocah yang sering melontarkan senyum manis itu mendapat asupan multivitamin setiap hari. Apalagi di musim hujan seperti ini, Tanti, 28 tahun, begitu khawatir buah hatinya jatuh sakit. Ibu rumah tangga yang tinggal di Bekasi ini membayangkan kepanikan yang harus dialaminya jika kondisi itu terjadi. Maka, ia pun mengambil langkah sedia payung sebelum hujan. Agar tak sakit, bocah itu dicekoki suplemen multivitamin. Apalagi, ia terpesona berbagai iklan produk suplemen multivitamin di layar kaca.

Karena itulah, dr Purnamawati S. Pujiarto, SpAK, MMPed pun meminta para ibu untuk hati-hati. Spesialis anak ini menyebutkan, suplemen itu bermanfaat hanya untuk orang berusia 65 tahun ke atas. Atau orang-orang yang dalam kondisi tertentu, seperti menopause, mengalami gangguan makan, menjalani diet rendah kalori. Juga mereka yang perokok, mengkonsumsi minuman beralkohol, melakukan diet khusus, tengah merancang kehamilan, mempunyai kelainan metabolisme, atau penyerapan makanan dalam tubuh.

Ia mengungkapkan, anak dan perempuan sering kali menjadi korban dari berbagai produk suplemen. Dengan membidik pasar kaum Hawa, di pasar saat ini telah beredar berbagai produk yang bisa mencegah banyak hal, misal penuaan, osteoporosis. Padahal, penggunaan antioksidan--dengan kandungan vitamin A, E, dan lain-lain--secara berlebihan bisa berujung pada kematian.

Dokter yang bertugas di Kemang Medical Care, Jakarta Selatan, ini menyatakan, tak hanya anak-anak yang harus dicermati dari penggunaan suplemen, orang dalam kondisi tertentu pun harus lebih hati-hati. Misalnya, ibu menyusui, ibu hamil, atau menderita penyakit tertentu, seperti hipertensi, penyakit jantung, tiroid, diabetes, memiliki riwayat stroke, glaukoma, pembekuan darah, depresi, penyakit jiwa, epilepsi, parkison, pembesaran prostat, dan transplantasi organ.

Ia pun menyindir sebuah produk yang mengandung kolustrum. "Bayangkan, berapa sapi yang dibutuhkan untuk membuat produk tersebut," ujarnya. Menurut dokter yang biasa disapa Wati ini, vitamin dan mineral memang berperan penting dalam kelangsungan proses kegiatan sel-sel dalam tubuh. "Tapi, hanya dibutuhkan dalam jumlah kecil," ujarnya. Hanya ada beberapa gangguan yang muncul akibat kekurangan vitamin, tapi berlebihan juga bisa berbahaya.

Wati menjelaskan, kelebihan vitamin yang larut dalam air--vitamin B dan C--dapat membuat beban kerja ginjal berlebihan sehingga fungsinya terganggu atau menyebabkan penumpukan dan muncullah batu ginjal. Sedangkan kelebihan vitamin larut lemak--vitamin A, D, E, dan K--bisa membebani hati yang bisa memicu gangguan fungsi hati, problem pembekuan darah, serta keracunan vitamin.

Bayangkan bila kondisi tersebut harus dihadapi anak-anak akibat ia dijejali suplemen terus-menerus. Padahal, saat ini banyak ibu yang ingin anaknya doyan makan sehingga ia membeli suplemen khusus pendongkrak nafsu makan. Padahal, kata Wati, suplemen sejenis itu belum terbukti efektif meningkatkan nafsu makan. "Dalam dunia kedokteran, belum ada yang namanya perangsang nafsu makan," ia menegaskan. Lagi pula, suplemen bukan obat yang harus menjalani uji klinis sehingga kita tidak tahu persis efektivitas dan keamanannya.

Mayoritas ibu pun ingin anaknya memiliki daya tahan super sehingga membeli suplemen khusus yang diiklankan mempunyai kemampuan menaikkan kekebalan tubuh. Wati dengan tegas menyebutkan, tidak ada obat untuk sistem imun. "Kalau tidak, kan sudah digunakan buat (penanganan) HIV," ujarnya. Hal senada juga diungkapkan spesial anak dr Zakiudin Munasir dalam kesempatan berbeda.

Zaki menyebutkan, sistem kekebalan tidak bisa diatur dengan satu hal. Walhasil, anak itu tidak perlu diberi asupan untuk meningkatkan daya tahan tubuh karena yang penting ialah asupan bergizi dan seimbang. Kekebalan, seperti halnya organ tubuh lain, memerlukan modal untuk bekerja. Nah, sajian bernutrisi lengkap dan seimbanglah yang bisa mendongkrak sistem kerjanya. Wati pun menyarankan para ibu untuk menyediakan bahan-bahan makanan yang kaya vitamin dan berbagai zat yang berguna seperti tubuh, seperti serat, protein dan fitokimia. Ingat pula hasil penelitian American Academy Pediatrics (AAP) yang menyebutkan pemberian suplemen vitamin terlalu dini, justru dapat meningkatkan risiko timbulnya alergi dan asma pada anak. Walhasil, maunya anak selamat, malahan jadi menderita. Bukankah orang tua juga yang merana?

RITA



Sumber : Tempointeraktif - http://www.tempointeraktif.com/hg/kesehatan/2009/02/03/brk,20090203-158114,id.html

Agar Tak Sakit Bila Kehujanan

Senin, 02 Februari 2009 | 15:32 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Musim penyakit tampaknya melanda keluarga Agus, 27 tahun. Tak hanya dia yang terserang flu berat disertai batuk, tapi juga Hanifah, 33 tahun, sang istri, serta kedua anak mereka, Rasyid (7) dan Dafa (5). Terakhir, Dafa malah demam tinggi. Beruntung, mereka bisa pulih satu minggu kemudian.

Peristiwa ini terjadi di pengujung 2008. Diduga, Aguslah biang kerok penularan penyakit itu. Soalnya, dialah yang pertama terserang. Karyawan di sebuah perusahaan penerbitan itu menduga, penyebabnya adalah dia kehujanan saat pulang kantor.

Kondisi badannya itu tak begitu dihiraukannya. Ia sibuk bekerja, sampai tak ingat untuk minum obat ataupun vitamin. Kontak fisik dan berkomunikasi dengan anak dan istri menyebabkan penyakit itu menyebar ke seluruh anggota keluarganya.

Demam, infeksi saluran pernapasan seperti flu dan batuk, serta diare, menurut ahli gizi dari Universitas Indonesia, Saptawati Bardosono, merupakan penyakit yang sering muncul saat musim hujan.

Sebenarnya, berbagai penyakit itu bisa dicegah asalkan asupan kalori dan protein dalam tubuh kita tercukupi. Asupan kalori bisa didapatkan dari makanan pokok dan minyak atau lemak. Contohnya, nasi dan lauk pauk yang digoreng.

"Untuk itu, perlu pengaturan pola makan yang teratur. Sarapan, makan siang, dan makan malam," kata dokter yang biasa dipanggil Tati ini kepada Tempo, Kamis lalu.

Sedangkan asupan protein dibutuhkan tubuh agar dapat membentuk faktor pertahanan untuk melawan virus ataupun kuman penyebab penyakit. Selain itu, untuk cepat memulihkan dan mengganti sel tubuh yang rusak akibat serangan virus atau kuman.

Protein dari makanan dapat diperoleh dengan mengkonsumsi tempe, tahu, ikan, telur, ayam, ataupun daging serta susu. Ikan laut, yang mengandung asam lemak omega-3, juga yang berfungsi sebagai antiperadangan.

Selain itu, menurut Tati, mengkonsumsi banyak sayur dan buah-buahan juga bisa mencegah penyakit. Sayur dan buah banyak mengandung vitamin dan mineral yang berfungsi sebagai antioksidan. "Terutama sayur dan buah-buahan yang berwarna jingga," ujar Tati.

Buah-buahan dan sayuran berwarna jingga mengandung betakaroten, sejenis karotenoid. Fungsinya menghambat penuaan sel-sel di dalam tubuh. Selain itu, di dalam tubuh sebagian betakaroten berubah menjadi vitamin A, yang akan memacu sistem kekebalan tubuh.

Contoh buah berwarna jingga adalah melon jingga, pepaya, mangga, apricot, dan jeruk. Sedangkan sayuran: wortel, ubi jalar merah, labu kuning, dan wortel. Selain itu, bayam yang berwarna hijau juga mengandung betakaroten.

Sesaat setelah terkena air hujan, menurut Tati, tubuh perlu diberi penghangat. Salah satu caranya adalah mengkonsumsi makanan atau minuman hangat. Misalnya sup atau sayur hangat, susu hangat, sekoteng, air jahe, bandrek, atau bajigur.

Jahe, misalnya, bermanfaat membantu tubuh melawan pilek dan flu. Sebab, jahe mengandung antioksidan yang membantu menetralkan efek merusak yang disebabkan oleh radikal bebas di dalam tubuh.

Selain itu, jahe mengandung zat-zat yang berguna bagi tubuh manusia. Ia akan merangsang pelepasan hormon adrenalin dan memperlebar pembuluh darah, sehingga darah mengalir lebih cepat dan lancar dan kerja jantung dalam memompa darah lebih ringan.

Anak-anak yang terkena air hujan harus segera dimandikan dengan air hangat untuk menghilangkan kotoran air hujan dan untuk menghangatkan badan. Setelah itu, kenakan baju hangat dan siapkan makanan dan minuman hangat, misalnya susu cokelat.

Pasalnya, selain memberikan asupan 25 persen kalsium, kandungan glukosa dan protein dalam susu cokelat bisa meningkatkan kembali stamina anak.

ERWIN DARIYANTO


Sumber : Tempointeraktif.com - http://www.tempointeraktif.com/hg/kesehatan/2009/02/02/brk,20090202-158000,id.html

Translate